Renegosiasi vs harga minyak
Harga minyak ibaratnya seperti main “roaler coaster”, turun naik kenceng, jadi bikin pusing banyak orang. Ketika harga minyak tinggi kemaren kemaren, banyak negara produsen “protes” dan menutut bagian yang lebih besar dari hasil pendapatan migas. Banyak negara minta renegosiasi kontrak, jangan lupa kasus kontrak LNG Tangguh yang sempat rame di mass media tanah air, yang pada saat itu cap batas atasnya cuma dipatok sebesar $ 25 per barrel (yang kalau nggak salah kemudian berhasil nego jadi $ 35 per barrel). Ketika harga minyak tinggi sekali waktu itu ($ 140 per barrel), banyak yang kembali protes dan kemudian dibentuk team renegosiasi lagi.
Dengan harga minyak yang sekarang sudah jatuh dibawah $ 35 - $ 40 per barrel, apa team ini masih perlu berunding lagi. Kalau harga minyak terus turun dibawah $ 20 per barrel (sesuatu yang kelihatannya mustahil, sama halnya ketika harga minyak $ 140 per barrel, pada saat itu, orang mikir mustahil akan turun dibawah $ 40 per barrel dalam beberapa bulan kedepan). Mungkin gantian pihak China yang minta renegosiasi, karena harga LNG-nya sudah kemahalan he he. Bisa jadi setiap negara akan terus sibuk bikin dan bubarin team renegosiasi.
Pada saat harga minyak tinggi, negara yang protes untuk minta bagian “Govenment Take“ lebih tinggi, sebaliknya, pada saat harga minyak rendah, gantian, perusahaan migas yang protes, supaya negara berkenan mengurangi bagian “Government Take” nya. Pertanyaannya: seberapa cepat perubahan kebijakan itu dilakukan. Untuk negara tertentu, seperti Russia, mereka bergerak cepat, pada saat harga minyak anjlok drastis belakangan ini, export taxes-nya diturunkan sebesar 32%. Saya kira negara lain sudah mulai menyiapkan ”program insentif“ nya, supaya proyek tetap jalan.
Kelompok pemikiran yang menyatakan bahwa kontrak migas itu harus cukup fleksibel untuk menangkap perubahan yang sudah menjadi ciri industri migas tampaknya valid. Dari awal, kontrak migas seyogyanya dikaitkan dengan harga minyak dan tingkat keuntungan (profitability). Supaya mereka secara otomatis bekerja pada saat harga minyak seperti roaler coaster ini, dan supaya tidak perlu sibuk membentuk team renegoasiasi, yang takutnya belum sempat kerja harga minyak sudah berubah drastis. Baru menghitung formula untuk windfall profit taxes, eh.. harga udah anjlok, ketinggalan kereta terus nanti..
Rabu, 20 Januari 2010
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 07.37 0 komentar
Label: migas
Harga Keekonomian Pengembangan Lap. Minyak
Hubungan antara supply cost dan keekonomian lapangan minyak menjadi kompleks karena adanya fiscal regime yang mana masing masing negara sangat berbeda terms dan kondisinya. Saya mencoba membuat hitung-hitungan untuk memperkirakan berapa “biaya minimal” (supply cost) supaya suatu lapangan minyak baru dapat dikembangkan untuk kondisi saat ini.
Saya memfokuskan untuk proyek laut dalam (Deepwater) di manca negara dan juga lapangan di Russia serta Heavy oil di Canada. Russia menarik dipilih karena fiscal termnya sangat ketat, sedangkan Heavy oil Canada dipilih karena biaya operasinya yang besar. Kajian singkat ini diharapkan dapat membantu untuk menerangkan mengapa beberapa lapangan minyak menjadi tidak ekonomis dikembangkan dengan kondisi harga minyak yang rendah.
Untuk studi kasus, empat lapangan di area lokasi laut dalam (Deepwater) dipilih yaitu: di US Gulf of Mexico (GoM), Africa, Malaysia and Brazil. Dua lapangan berlokasi di North Sea dan Russia.
Definisi:
Supply cost pada dasarnya adalah berapa harga minyak (dalam $/per barrel) yang diperlukan untuk merecover biaya biaya yang telah dikeluarkan seperti: biaya capital, biaya operasi; termasuk juga pembayaran royalty, profit oil dan pajak. Pada saat yang sama, investor memperoleh suatu return tertentu.
Beberapa penulis mungkin menggunakan istilah yang berbeda, seperti “break-even price”, atau lebih spesifik misalnya: breakeven price for “X%” post-tax IRR.
Metodologi:
Berdasarkan fiscal terms dari proyek di negara negara yang diplih tersebut, kemudian dibuat model keekonomian proyek untuk perhitungan supply cost.
Beberapa asumsi antara lain:
• Proyeknya: stand alone
• Perhitungan dilakukan dalam dua tahapan. Pertama, berdasarkan asumsi profil produksi dan perkiraan kapan tercapainya produksi puncak, besarnya cadangan yang dapat diambil, dan asumsi umur proyek (dalam kasus ini 25 tahun).
• Berdasarkan asumsi harga minyak, selanjutnya dihitung IRR proyek.
• Pada tahap kedua, berdasarkan target IRR (dalam studi kasus ini digunakan 10% dan 15%), maka dihitung berapa harga minyak untuk memperoleh IRR tersebut dengan menggunakan fungsi “Goal Seek” yang tersedia di Excel.
• Selanjutnya harga minyak ini merupakan supply cost dari lapangan tersebut.
Singkat cerita, setelah dibuat perhitungan sesuai metodologi diatas, diperoleh hasil seperti ditampilkan dalam chart berikut:
Keterangan gambar:
Sumbu vertikal adalah harga minyak (US$ per barrel) yang dalam kasus ini adalah supply cost.
Lapangan A berlokasi di laut dalam Malaysia, lapangan B di Congo, lapangan C di Laut Utara, lapangan D di Russia, lapangan E adalah lapangan laut dalam di Brazil, lapangan F di Teluk Meksiko dan G adalah proyek tipical proyek oil sand di Canada.
Gambar diatas menunjukkan hasil perhitungan supply cost untuk 10% IRR (warna kuning) dan 15% IRR (warna oranye) yang disortir dari yang terendah ke yang tertinggi. Hasil perhitungan menunjukkan range antara 60 sampai 80 US$ per barrel (WTI) untuk dapat 15% IRR, sedangkan supply cost untuk dapat 10% IRR range-nya antar 43 sampai 64 US$ per barrel (WTI). Fiscal terms & conditions menjadi salah satu faktor yang sangat berperan dalam mempengaruhi tinggi rendahnya supply cost.
Sekedar perbandingan, saya lampirkan perkiraan supply cost dari IEA, World Energy Outlook 2008, kalau kita bandingkan untuk Deepwater dan Heavy Oil, hasilnya nggak begitu jauh; tentu saya lebih akurat (he he) karena modelnya project based dengan memasukkan detail analisa fiscal terms di modelnya.
Source: IEA, World Energy Outlook 2008, page 218
Kesimpulan:
Harga minyak perlu cukup tinggi, supaya eksplorasi migas terus berjalan, supaya teknologi mencari energi alternatif tetap menarik, teknologi efisiensi energi berkembang, supaya orang nggak enak-enakan dengan harga minyak murah, kemudian jadi boros, padahal minyak adalah energi yang tidak terbarukan. Sejarah menunjukkan, apabila harga minyak terus rendah, cepat atau lambat akan terjadi krisis energi. Seperti pepatah bilang, mendingan "bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian", jangan dibalik he he...
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 07.29 0 komentar
Label: migas




BASIC COMPLETION METHODS
1. Abandonment: Plugging the well with cement, recovering any casing or other tangible equipment that can be economically removed and, on land, restoring the surface location to its original condition.
2. Completion: Installing the tools and equipment needed to safely produce hydrocarbons from the well. Completion may also involve stimulating the well to improve its productivity, either by pumping an acid mixture into the productive formation or fracturing the rock.
In some cases—most notably offshore exploration wells—abandonment is a foregone conclusion. In offshore projects, exploratory wells are usually abandoned after extensive evaluation and testing; producing wells are drilled and completed later, as part of the overall development plan. In onshore projects, on the other hand, the decision to abandon or complete is generally based on the results of the well evaluation.
Each drilled wellbore awaiting completion is unique. Even nearby wells drilled to the same reservoir can have different depths, formation characteristics, and hole sizes. It follows, then, that a wide variety of equipment designs and procedures have been developed to provide safe, efficient conduits from subsurface reservoirs to the surface in different situations. In each case, the ideal completion design minimizes initial completion and operating costs, while providing for the most profitable operation of an oil or gas well over its entire life.
The basic completion design may follow one of several configurations:
* open hole completion, where casing extends only to the top of the producing interval ( Figure 1 (a))
Figure 1
* uncemented liner completion ( Figure 1 (b)), where a slotted liner is set across the producing interval
* cemented and perforated completion ( Figure 2 (c) and (d)), where casing or a liner is cemented across the productive interval and then perforated to establish a conduit between the formation and the wellbore.
Figure 2
One of these configurations will be the basis for the completion design, which may incorporate one or multiple strings of tubing and tubing accessories to facilitate production from one or multiple zones.
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 07.13 0 komentar
Label: migas
PANAS BUMI
Panas bumi merupakan sumber energi yang ramah lingkungan dan berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Sumber energi ini juga cenderung tidak dapat habis karena proses pembentukannya yang menerus selama kondisi lingkungannnya terjaga keseimbangannya. Potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia adalah sebesar 27 Gwe atau setara dengan sekitar 12 miliar barel minyak bumi untuk pengoperasian selama 30 tahun. Berdasarkan kenyataan tersebut Pemerintah memproyeksikan kontribusi panas bumi untuk kelistrikan sekitar 9.500 Mwe atau 5% kebutuhan pembangkit listrik pada tahun 2025. Hal ini ditetapkan dalam dalam Perpres No. 5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional.
Pengembangan potensi panas bumi didasari beberapa hal, yaitu potensi yang besar, antara lain, pertama, terdapat pada lapangan Seulawah Agam (NAD), Tampomas, dan Cisolok-Cisukarame (Jawa Barat), Gunung Unggaran (Jawa Tengah), Ngebel Wilis (Jawa Timur), dan Jailolo (Halmahera, Maluku Utara). Kedua, melambungnya harga minyak yang hampir mencapai US$ 140 / barel (harga status tgl. 17 juni 2008) sehingga mendorong penggunaan bahan bakar alternatif. Ketiga, isu pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil. Panas bumi dapat berperan dalam mengurangi gas rumah kaca.
Disamping menerbitkan Perpres 5/2006, Pemerintah telah menerbitkan pula Undang-Undang No. 27 tahun 2003 tentang panas bumi, dan Peraturan Pemerintah No. 59 tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi. Undang-undang dan peraturan tersebut dimaksudkan untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan panas bumi.
Hal lain yang menarik, energi panas bumi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sumber energi terbarukan yang lain, diantaranya: (1) hemat ruang dan pengaruh dampak visual yang minimal, (2) mampu berproduksi secara terus menerus selama 24 jam, sehingga tidak membutuhkan tempat penyimpanan energi (energy storage), serta (3) tingkat ketersediaan (availability) yang sangat tinggi yaitu diatas 95%.
Panas bumi yang selama ini dimanfaatkan untuk pembangkit listrik masih terbatas pada sumber-sumber yang dikategorikan ideal atau high-grade hydrothermal system. Secara umum sumber panas bumi seperti ini memiliki karakteristik seperti kedalaman reservoir yang relatif dangkal atau kurang dari 2.500 meter, memiliki kandungan uap dengan enthalpi relatif tinggi dan serta memiliki permeabilitas yang memenuhi syarat.
Investasi dibidang panas bumi bagi pelaku bisnis Oil & Gas dalam tanda kutip “kurang menarik” bagi stakeholder (kapitalis) dari segi keuntungannya, tapi dengan kondisi peak oil & pemanasan global seperti sekarang, kedepan bisnis geothermal sangat menjanjikan.
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 06.54 0 komentar
Label: migas
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 06.43 0 komentar
Label: migas
1. Crude price trending naik kira2 30% pertahun, harga hari ini US$ 62.9/BBL; jadi utk 10 tahun lagi bisa dihitung berdasarkan grafiki dibawah ini dan +/-nya berapa persen gitu gan
2. Harga sewa Rig 1000HP pada saat ini dikisaran angka US$ 1.300.000 - 1.500.000 per well. Yang 1500 HP enggak tahu gan
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 06.34 1 komentar
Label: migas
1.Batuan Beku
Contoh batuan beku: PEGMATITE
Pegmatite adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang akan terinjeksi dan menerobos batuan di sekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Pegmatite muncul pada tahapan akhir kristalisasi magma dan kadang-kadang mengandung pengkayaan beberapa mineral jarang yang mengandung unsur-unsur seperti Boron, Lithium, Uranium dan REE.
a.Sifat Fisik
Pegmatite adalah batuan beku yang istimewa dengan ukuran kristal yang besar, bergaris tengah 1 cm atau lebih. Kristal dari pegmatite akan berukuran besar, karena tidak adanya kontras tekanan dan temperatur antara magma dengan batuan di sekelilingnya, sehingga pembekuan berjalan dengan lambat. Pegmatit biasanya adalah lensa berbentuk badan batu dengan ketebalan beberapa desimeter untuk beberapa puluh meter.
Sebagai tubuh bumi, pegmatite akan terbentuk sebagai teras, lensa atau urat-urat yang tidak teratur bentuknya, kadang-kadang sebagai stock. Urat pegmatite dapat mempunyai ketebalan beberapa meter dan panjangnya mencapai ratusan meter. Tubuh pegmatite umumnya dikelilingi oleh batuan induknya, komposisinya bermacam-macam dari ultra basa hingga asam. Komposisi pegmatite berbeda sedikit dengan batuan induknya.
Banyak pegmatite memperlihatkan struktur zona dan sebaran mineralnya kurang teratur. Contoh: pegmatite dari Murzinka (dari Ural di Rusia). Bagian dari zona pegmatite yaitu kontak dengan granit yang mengelilinginya terdiri dari batuan yang berwarna terang (aplit), ke arah tengah menjadi zona granit grafit (pertumbuhan bersama dari feldspar dan kuarsa), kemudian zona feldspar dan kuarsa yang berbutir kasar. Di bagian tengah dari zona retas pegmatite terdapat rongga-rongga dimana pada bagian dinding-dindingnya berjajar kristal yang berukuran besar, terdiri dari kristal betuan, topas dan batu permata lainnya.
b.Kandungan Mineral
Mineral-mineral pegmatit antara lain : logam-logam ringan (Li-silikat, Be-silikat (BeAl-silikat), Al-rich silikat), logam-logam berat (Sn, Au, W, dan Mo), unsur-unsur jarang (Niobium, Iodium (Y), Ce, Zr, La, Tantalum, Th, U, Ti), batuan mulia (ruby, sapphire, beryl, topaz, turmalin rose, rose quartz, smoky quartz, rock crystal).
Sebagian besar berasal dari komposisi granit pegmatites atau alkaligranitischer terutama terdiri dari mineral kuarsa, feldspar (orthoclase, microcline dan natrium plagioclase) dan micas seperti biotite, muscovite atau lepidolite.
c.Gambar
Gambar 1. Batuan beku (pegmatite)
2.Batuan Sedimen
Contoh batuan sedimen: BATU GAMPING (LIMESTONE)
Batu gamping (limestone) adalah jenis batuan paling umum dari batuan sedimen organik. Binatang laut seperti koral dan moluska memiliki cangkang yang terbuat dari bahan kalsium karbonat (CaCO3). Bila binatang-binatang itu mati, cangkangnya akan teronggok ke dasar laut dan membentuk tumpukan tebal kalsium karbonat. Tumpukan kalsium karbonat ini akan memadat dan merekat membentuk batu gamping.
Batu gamping merupakan batuan phospat yang sebagian besar tersusun oleh mineral kalsium karbonat (CaCo3). Digunakan untuk bahan baku terutama pembuatan semen Portland, industri keramik, obat-obatan, dan lain-lain. Kualitasnya pun cukup baik untuk keramik putih, dan sebagian merupakan hutan suaka.
Batu gamping juga merupakan bahan baku utama industri semen, 1(satu) ton semen diperlukan tidak kurang 1(satu) ton batu gamping disamping itu digunakan pula pada sektor pertanian, industri kaca, pemurnian dan peleburan besi baja dan lain-lain.
a.Sifat Fisik
Batu gamping lebih mudah larut oleh air hujan dibandingkan dengan batuan yang lainnya. Air hujan mengandung sejumlah kecil karbon dioksida selama perjalanannya di udara, dan hal tersebut mengubah air hujan tersebut menjadi nersifat asam.
Sebagian lapisan batu gamping hampir murni terdiri dari kalsit, dan pada lapisan yang lain terdapat sejumlah kandungan silt atau clay yang membantu ketahanan dari batu gamping tersebut terhadap cuaca. Lapisan gelap pada bagian atas mengandung sejumlah besar fraksi dari silika yang terbentuk dari kerangka mikrofosil, dimana lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca.
Kalsit sangat reaktif terhadap asam. Hal tersebut menjelaskan mengapa goa-goa bawah tanah cenderung untuk terbentuk pada daerah yang banyak mengandung batu gamping, dan juga menjelaskan mengapa bangunan-bangunan yang terbuat dari bahan batu gamping rentan terhadap air hujan yang mengandung asam. Pada daerah-daerah tropis , batu gamping terbentuk menjadi batuan yang kuat membentuk sejumlah pegunungan-pegunungan batu gamping yang indah.
Di bawah pengaruh tekanan yang tinggi, batu gamping termatomorfosakan menjadi batuan metamorf marble. Pada kondisi tertentu, kalsit yang terdapat di dalam batugamping teralterasi menjadi dolomite, berubah menjadi batuan dolomit.
b.Kandungan Mineral
Komposisi kimia batu gamping adalah SiO2 = 2.00%; Al2O3 = 0,19%; Fe2O3 = 0,52%; CaO = 53,18%; MgO = 0,63%; Na2O = 0,02%; K2O = 0,05%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,14%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,11%; HD = 42,44%.
Batu gamping dengan penampakan berupa jenis batuan sedimen karbonat atau grainstorone dengan warna lapuk hitam kecoklatan dan warna segar putih abu-abu, terstur klasik, ukuran lebih kecil 2 mm dengan struktur tidak berlapis. Sedang penampakan berupa jenis batuan sedinen piroklasik atau tifa halus berwarna coklat abu-abu dengan warna segar kuning kecoklatan ukuran butir 1/2 hingga 1/265 mm.
c.Gambar
Gambar 2. Batuan sedimen (limestone)
3.Batuan Metamorf
Contoh batuan metamorf: GNEISS
Gneiss adalah typical dari jenis batuan metamorf, batuan ini terbentuk pada saat batuan sediment atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi. Hampir dari semua jejak jejak asli batuan ( termasuk kandungan fosil) dan bentuk bentuk struktur lapisan ( seperti layering dan ripple marks) menjadi hilang akibat dari mineral-mineral mengalami proses migrasi dan rekristalisasi.
Meskipun batuan ini terubah secara alamiah, gneiss dapat mengekalkan bukti terjadinya proses geokimia di dalam sejarah pembentukannya, khususnya pada mineral mineral seperti zircon yang bertolak belakang dengan proses metamorfosa itu sendiri. Batuan batuan keras yang berumur tua seperti pada batuan gneiss yang berasal dari bagian barat Greenland, Isotop atom karbon dari batuan tersebut menunjukkan bahwasannya ada kehidupan pada masa batuan tersebut terbentuk , yaitu sekitar 4 millyar tahun yang lalu.
a.Sifat Fisik
Pada batuan gneiss, kurang dari 50 persen dari mineral mineral menjadi mempunyai bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan. Kita dapat melihat bahwasannya tidak seperti pada batuan schist yang mempunyai pensejajaran mineral yang sangat kuat, batuan gneiss tidak retak atau hancur sepanjang bidang dari pensejajaran mineral tersebut, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut, hal ini tidak seperti kebanyakan bentuk bentuk perlapisan yang terdapat pada batuan schist. Dengan proses metamorfosa lebih lanjut batuan gneiss dapat berubah menjadi magmatite dan akhirnya terkristalisasi secara total menjadi batuan granit.
Pada batuan ini terbentuk goresan goresan yang tersusun dari mineral-mineral seperti hornblende yang tidak terdapat pada batuan batuan sediment.
b.Kandungan Mineral
Gneiss terdiri dari gabungan mineral-mineral pipih (mika) dengan mineral bulat (kuarsa, garnet, silimanit, dan lain-lain). Mineral-mineral utama dari gneiss adalah quartz, orthose, plagioclase, biotite, muscovite, amphibole, pyroxene. Sedangkan mineral tambahan seperti apetite, zircon, sphene, grenat, cordierite, sillimanite, epidote, pyrite, graphite.
c.Gambar
Gambar 3. Batuan metamorf (gneiss)
Diposting oleh migasnet03_lucky8021.blogspot.com di 03.00 0 komentar
Label: migas


